Kamis, 30 April 2026 Reporter: Nurito Editor: Toni Riyanto 313
(Foto: Istimewa)
Pengalaman berbeda dapat dirasakan para pembeli kangkung di lahan Urban Farming Saung Aset, Jalan SMPN 126, RW 03, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur dengan cara memetik atau memanen sendiri.
"Kesegaran kangkung tetap terjaga"
Kepala Seksi Perekonomian dan Pembangunan Kelurahan Batu Ampar, Isra Nur Hikmah mengatakan kebijakan ini mulai diberlakukan pekan ini dengan tujuan agar pembeli mendapatkan kangkung dalam kondisi paling segar.
"Saat ini kita mulai jual kangkung secara berkelanjutan dengan sistem petik langsung," ujarnya, Kamis (30/4).
Ia menjelaskan, metode ini juga menjadi solusi untuk menjaga kualitas hasil panen. Jika dipanen sekaligus dalam jumlah besar, sayuran berisiko layu sebelum seluruhnya terjual.
"Melalui sistem petik langsung, kesegaran kangkung tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen atau saat dimasak," terangnya.
Menurutnya, dari total lahan seluas sekitar 3,8 hektare, sekitar 1.000 meter persegi dimanfaatkan untuk urban farming. Khusus untuk tanaman kangkung, luasnya sekitar 20 meter persegi dengan potensi panen mencapai 25 kilogram.
"Kami menargetkan hasil panen kangkung bisa habis terjual dalam waktu satu pekan. Apalagi saat awal panen, kondisi kangkung masih muda dan segar," ungkapnya.
Ia menambahkan, di lahan urban farming ini juga ditanami berbagai jenis sayuran lainnya, menjadikannya salah satu pusat produksi pangan lokal skala komunitas di wilayah tersebut.
"Harag jual sayur-mayur di sini sangat terjangkau. Untuk kangkung hanya dijual Rp 20 ribu per kilogram. Kami berkomitmen untuk ikut menjaga ketahanan dan kemandirian pangan," ucapnya.
Respons positif datang dari warga. Salah seorang pembeli, Suryati (41) mengaku senang dengan sistem baru ini karena selain lebih segar, pengalaman memetik langsung memberikan sensasi tersendiri.
"Rasanya seperti jadi petani di kampung. Kangkungnya segar, dan kalau dimasak rasanya jauh lebih enak," tandasnya.