Oleh :
Nurito
Sabtu, 28 Februari 2026 | 333
Matahari mulai menggelincir ke peraduan, sinarnya yang kuning keemasan membias di langit senja. Basah sisa gerimis siang hari, masih membekas di rerumputan dan ujung daun pepohonan yang belum tumbuh rindang.
Bias sinar mentari yang menyusup dari celah awan hitam dan sisa rinai gerimis, menambah sejuk suasana sore pekan awal Ramadan di Waduk Batu Licin, Cilangkap, Jakarta Timur.
Kesejukan seolah jadi magnet. Area seluas kurang lebih 4,5 hektare yang biasanya lengang sehabis hujan, sore itu tampak ramai orang dengan berbagai aktivitas.
Mengisi waktu senja saat Ramadan, seakan menjadi suatu bagian menarik dari sekitar 12 jam lebih perjalanan ibadah puasa yang sedang dilakoni hari itu.
Aktivitas yang populer dengan istilah 'ngabuburit' ini dilakoni Ningsih, warga RT 06/02, Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur. Perempuan berusia 37 tahun tersebut memilih menghabiskan waktu sore di Waduk Batu Licin dengan olahraga jalan kaki mengitari area jogging track yang ada.
"Jaga kebugaran tubuh, biar tetap fit meski sedang berpuasa," ujarnya.
Hal serupa dilakukan Ifany (35). Ibu dua anak ini mengaku sangat menikmati suasana sore di Waduk Batu Licin karena nyaman, sejuk dan aman.
"Pas banget ngabuburit di sini, lokasinya nyaman dan banyak pedagang takjil juga," ucap Ifany.
Ya, sejak diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung pada 12 Januari lalu, Waduk Batu Licin kini menjadi kawasan favorit warga untuk kongkow dan berolahraga serta ber-swafoto dengan latar belakang area penampang basah waduk atau lainnya.
Banyaknya warga ngabuburit di area waduk dimanfaatkan banyak pedagang musiman yang menjajakan aneka takjil dengan harga murah. Mereka menggelar lapak, gerobak, sepeda hingga memasang tenda seadanya di luar area waduk.
Aneka jajanan yang ada seperti berbagai jenis gorengan yang dibanderol Rp2000, tahu isi Rp2.500, lontong isi sayur atau oncom Rp2.000.
Kemudian, ada kolak biji salak, bubur sumsum, pacar cina masing-masing dibanderol Rp5.000. Selanjutnya ada nasi rames paket Rp10.000 dan minuman segar Rp5.000 per gelas.
"Alhamdulillah, keberadaan waduk ini bawa keberkahan tersendiri bagi saya," kata Wiwik, salah seorang penjual takjil.
Sejarah Batu Licin
Sebelum direvitalisasi dan diresmikan, waduk yang berlokasi di kawasan Cilangkap ini dikenal dengan nama Waduk Giri Kencana. Berdasarkan aspirasi dan usulan warga, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merubah nama waduk ini jadi Waduk Batu Licin.
Bagi masyarakat Cilangkap, pergantian nama ini menyentuh soal identitas, sejarah, serta cara masyarakat memandang dan merawat alam yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan kampung.
Nama Batu Licin merujuk pada sebuah batu besar yang dahulu berada di pertemuan aliran Kali Cilangkap, Kali Gondang dan Kali Wangsaan.
Batu tersebut dikenal memiliki permukaan datar dan licin, sekaligus menjadi penanda ruang sosial yang diperlakukan secara khusus.
Menurut penuturan para sesepuh kampung, Batu Licin bukan sekadar batu alam biasa. Dalam cerita lisan yang berkembang, hewan ternak pun enggan menginjak batu tersebut.
Hal ini memperkuat keyakinan masyarakat bahwa kawasan tersebut memiliki nilai simbolik yang menuntut sikap hormat dan kehati-hatian.
Sejumlah kisah turun-temurun juga mengaitkan Batu Licin dengan jejak sejarah kerajaan kuno. Batu tersebut digambarkan berbentuk cekung menyerupai kuali dan dipercaya pernah berfungsi sebagai meja perjamuan atau tempat duduk raja.
Beberapa warga bahkan menuturkan pernah ditemukan struktur berundak menyerupai tangga di bawah batu, meski upaya penggalian tidak pernah dilanjutkan karena berbagai kendala teknis.
Terlepas dari otentik atau tidaknya sejarah itu, namun keberadaan Waduk Batu Licin ini sangat bermafaat sebagai infrastruktur pengendalian air sekaligus menjadi penanda bahwa pembangunan kota tetap memberi ruang bagi sejarah dan kearifan lokal.