Awan gelap, gerimis belum juga reda mengirim dingin sore itu. Asap tipis mengepul bercampur wewangian rempah menyeruak, mengundang rasa penasaran siapa pun yang melintas.
Di balik kepulan itu, tersaji Laksa Betawi Asirot, kuliner legendaris seakan memanggil lidah untuk mencicip. Di tengah kepungan kuliner kekinian di Jakarta, Laksa Betawi Asirot hingga kini tetap bertahan sebagai jamuan bercita rasa autentik yang tak pernah kehilangan penggemar.
Menyantap semangkuk laksa di tempat ini bukan sekadar urusan mengenyangkan perut, melainkan perjalanan melintasi waktu dan menyusuri resep rahasia yang diwariskan sejak 1970 dan terus setia menunggu siapa pun yang merindukan cita rasa khasnya.
Bagi Haji Zidni Darussalam, menjaga cita rasa laksa bukan perkara mudah dan tak boleh dikhianati oleh rasa malas. Di dapur yang terletak di Jalan Asirot Nomor 1, RT 01/03, Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, setiap proses memasak dijalani dengan ketelatenan tinggi.
Ketupat misalnya, tak sekadar direbus hingga matang, tetapi harus melalui proses selama 12 jam demi mendapatkan tekstur yang sempurna. Tidak cuma itu, kuah sayur laksa hingga sambal godog sudah dimasak sejak malam hari sebelum disajikan kepada pelanggan keesokan paginya.
Alhasil, irisan ketupat bertabur kucai, tauge kecil, daun kemangi, taburan bawang goreng serta kuah kuning hangat paduan rempah jahe, kunyit, kencur, lengkuas, daun jeruk, bawang merah, bawang putih ditambah gurihnya ebi selalu dinanti oleh para pelanggannya sejak lama. Proses panjang inilah yang membuat cita rasa Laksa Betawi Asirot tetap autentik.
“Ini supaya bumbunya benar-benar meresap,” ujar Zidni, pemilik usaha Laksa Betawi Asirot, belum lama ini kepada BeritaJakarta.
Zidni pun mengungkapkan, resep turun-temurun dari sang nenek, diramu dengan telaten menghadirkan harmoni rasa dari kuah oranye pekat, gurihnya ebi, serta pilihan lauk tambahan seperti semur jengkol dan daging empal.
“Laksa Betawi banyak, tapi rata-rata yang sudah makan di sini pasti balik lagi. Mereka bilang, setelah coba di tempat lain, rasanya jauh,” tutur Zidni.
Keteguhan menjaga resep leluhur itu membawa nama Laksa Betawi Asirot melintasi batas negara dan strata sosial. Zidni mengungkapkan, Presiden ke-2 RI Soeharto kerap menyambangi warung tersebut pada malam hari.
“Pak Harto dulu sering makan di sini. Bulan lalu, Mbak Tutut dan suaminya juga masih pesan,” tambahnya.
Tak hanya pejabat negara, sejumlah artis hingga almarhum pakar kuliner Bondan Winarno juga kerap mampir demi menikmati Laksa Betawi Asirot dan kudapannya.
“Pak Bondan kalau ke Jakarta suka mampir. Dia bahkan parkir mobil agak jauh supaya bisa makan dengan nyaman,” kata Zidni.
Loyalitas pelanggan di warung ini pun melampaui jarak. Ada pelanggan yang rutin membawa pesanan Laksa Betawi Asirot terbang ke Singapura setiap bulan. Ini menjadi bukti bahwa lidah tak bisa berbohong, meski raga berada di negeri orang.
Zidni menambahkan, kedai Laksa Betawi Asirot saat ini hanya melayani pemesanan melalui sistem open pre-order (PO) menyusul wafatnya salah satu anggota keluarga. Meski demikian, pihak keluarga berkomitmen untuk kembali membuka kedai tersebut dalam waktu dekat.
“Sementara ini kami masih open PO sejak mpok saya meninggal. Biasanya pelanggan memesan lewat WhatsApp di nomor 0877-6725-3171 dan 0858-1764-7257 atau telepon. Ke depan, kami berencana membuka kembali kedai, meski waktu pastinya belum ditentukan,” jelasnya.
Menjaga Laksa Betawi Tetap Ada
Di balik harum kuah santan yang mengepul dari dapur Laksa Betawi Asirot, terselip harapan besar tentang masa depan identitas Jakarta. Kini, di bawah pengelolaan generasi penerus, warung ini tetap menjadi simbol kemandirian kuliner Betawi. Dengan harga sekitar Rp20 ribu per porsi, Laksa Betawi Assirot tak sekadar menjual makanan, tetapi juga menjaga martabat kuliner legendaris Jakarta.
Budayawan Betawi, Ahmad Supandi menilai, eksistensi warung legendaris seperti milik Babeh Zidni bukan sekadar urusan niaga, melainkan benteng terakhir pelestarian budaya. Menurutnya, Laksa Betawi harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak hanya menjadi catatan sejarah di buku-buku lama.
Ia menekankan, Laksa Betawi memiliki potensi besar menjadi ikon budaya yang dibanggakan, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Setiap suapan laksa yang dinikmati orang asing, termasuk pelanggan Assirot yang membawanya hingga ke Singapura dan Amerika menjadi bentuk diplomasi budaya yang paling jujur.
“Kita ingin laksa ini tetap dikenal luas tanpa kehilangan jati dirinya,” ucapnya.
Ditambahkan Supandi, tantangan terbesar terletak pada konsistensi. Karena itu, ia berharap, para pelaku UMKM dan pedagang tradisional seperti keluarga Babeh Zidni terus mendapatkan dukungan agar kualitas rasa dan keaslian resep tetap terjaga. Di tengah gempuran makanan modern, ia mendorong inovasi yang cerdas, namun tetap berpijak pada akar tradisi.
“Inovasi itu perlu, tapi jangan sampai menghilangkan ‘nyawa’ dari Laksa Betawi itu sendiri,” tandasnya.
Seperti diketahui, laksa adalah makanan mi berkuah bumbu rempah yang memadukan elemen Tionghoa, Melayu dan berbagai etnis lainnya. Kuliner ini sangat populer di Tionghoa dan Asia Tenggara, utam anya di Singapura, Malaysia, Thailand dan Indonesia.
Di Indonesia, ada beragam laksa yang dikembangkan mengikuti cita rasa selera lokal dan tradisi kuliner masyarakat setempat. Salah satu varian laksa khas Indonesia yang populer ialah laksa Betawi. Keistimewaannya ialah kuahnya yang lebih kental dan bumbunya yang lebih terasa.
Rasa kuah sedikit manis, pedas serta gurih yang dominan membuat laksa sangat cocok disantap saat masih hangat, terlebih pada musim hujan seperti saat ini. Jadi tunggu apa lagi, tergoda dengan laksa Betawi yang kaya rasa? Buruan pre-order Laksa Betawi Asirot!.