Langit mulai meredup di kawasan Stasiun Jakarta Kota. Semburat jingga menimpa dinding tua yang menjadi saksi sejarah. Sementara, langkah-langkah bergegas di antara riuh kendaraan dan lalu lalang wisatawan. Aroma gula merah dan santan hangat menyeruak pelan, menuntun siapa saja pada sebuah gerobak sederhana di depan stasiun.
Di sanalah Ahmad (60) yang akrab disapa Bang Mamat, setia berdiri. Tangannya cekatan menyendok potongan kenyal berwarna merah, hijau, dan putih ke dalam cup plastik. Di atasnya, ia guyurkan gula merah kental dan santan gurih, lalu menambahkan es batu yang berderak pelan.
Satu per satu pembeli mengantre, menunggu giliran untuk bisa menikmati segelas kesegaran bernama Selendang Mayang. Bagi Bang Mamat, minuman khas Betawi ini bukan sekadar pelepas dahaga. Ia adalah jejak hidup yang sudah ditempuh lebih dari tiga dekade. Sejak era 1990-an, ia memikul dagangannya berkeliling kawasan Kota Tua. Panas, hujan, dan lelah menjadi kawan akrab.
"Dulu saya muter, dipikul. Capek, tapi senang, banyak yang nungguin," kenangnya sambil tersenyum.
Kini, setelah usia tak lagi muda, ia memilih menetap di satu titik strategis depan stasiun, tempat pemburu kuliner dan wisatawan mudah menemukannya.
Resep Diracik dengan Kesabaran
Setiap pagi, di rumah sederhananya di Kampung Balokan, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, Bang Mamat bersama sang istri menyiapkan adonan dari tepung sagu.
Bahan-bahan pun semua diramu dalam ukuran, takaran yang sudah diperhitungkan dan terhafal di luar kepala. Ada warna hijau diambil dari daun pandan dan suji, putih dari sagu alami, sementara merah berasal dari pewarna tradisional.
Adonan kemudian dimasak hingga mengental, lalu dituangkan berlapis-lapis ke dalam loyang besar berdiameter 50 sentimeter. Hasilnya adalah tekstur lembut menyerupai agar-agar, namun lebih kenyal dan padat. Disajikan bersama potongan nangka harum, gula merah cair, dan santan segar. Rasanya menyatu, manis, gurih, dan dingin yang menenangkan.
"Sehari bisa habis satu loyang, sekitar 50 cup. Kalau hari libur bisa dua loyang," ujar Bang Mamat.
Harganya jual es Selendang Mayang sangat ramah di kantong, mulai Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Pembayaran kini tak hanya tunai, tetapi juga bisa melalui QRIS, tradisi yang beradaptasi dengan zaman.
Selama Ramadan, Bang Mamat menuturkan, jam berdagangnya berubah. Jika hari biasa mulai pukul 13.00 WIB, di bulan puasa ia baru membuka gerobak sekitar pukul 16.00 WIB.
"Menjelang azan Magrib, pembeli biasa banyak berdatangan. Alhamdulillah, kalau bulan puasa ramai. Kebanyakan memang buat berbuka di rumah," tuturnya.
Menjaga Rasa, Merawat Sejarah
Di tengah gempuran minuman kekinian dengan tampilan modern dan rasa beragam, Selendang Mayang tetap bertahan dalam kesahajaan. Gerobak Bang Mamat mungkin tak bercahaya terang benderang. Namun, di sanalah warisan kuliner Betawi dirawat hari demi hari.
Setiap cup yang ia sajikan bukan hanya tentang rasa manis dan gurih, tetapi juga tentang ketekunan, ingatan kolektif, dan identitas Jakarta. Selapis demi selapis warna di dalamnya seperti menyimpan harapan agar tradisi ini tetap hidup.
Maka, ketika senja turun di kawasan Kota Tua dan azan Magrib segera berkumandang, segelas Selendang Mayang dari tangan Bang Mamat bukan sekadar penghilang dahaga. Ia adalah cerita yang bisa diminum, dingin, lembut, dan penuh makna.
Rasa Membawa Pulang Kenangan
Bagi sebagian warga Jakarta, Selendang Mayang adalah rasa masa kecil yang sulit dilupakan. Maswah (48), warga Mangga Besar mengaku rela mampir ke Kota Tua hanya untuk mencicipinya lagi.
"Dari kecil sudah kenal. Dulu sering ada yang keliling depan rumah. Rasanya segar, manis, gurih. Kalau siang hari tambah es, nikmat betul," ungkapnya.
Ia menyebut teksturnya “menenangkan”. Tidak membuat perut terasa berat saat berbuka. Namun, ia juga menyayangkan semakin langkanya pedagang Selendang Mayang.
"Sekarang yang jual jarang. Anak-anak muda banyak yang belum tahu. Sayang kalau sampai hilang," imbuhnya.
Cantik dalam Cerita Rakyat
Di balik warna-warni yang memikat, tersimpan cerita lama masyarakat Betawi. Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra menjelaskan, nama Selendang Mayang terinspirasi dari kisah rakyat Si Jampang. Nama “Mayang” merujuk pada sosok Mayangsari, perempuan cantik berambut ikal mayang yang digambarkan gemulai.
Keindahan itulah yang tercermin dalam lapisan warnanya. Hijau melambangkan harapan dan alam, merah melambangkan kegembiraan dan semangat, sementara putih melambangkan keikhlasan. Dalam tafsir lain, warna-warna itu kerap dikaitkan dengan nilai iman, Islam, dan ihsan.
Minuman ini, kata Yahya, bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Kesederhanaan bahan alaminya menjadi kekuatan utama.
"Teksturnya lembut, tidak membuat perut kaget setelah berpuasa. Manisnya cepat mengembalikan energi, dinginnya menyejukkan tubuh," pungkasnya.