Pahlawan Laut Dari Pesisir

Oleh :

Reza Pratama Putra

Minggu, 18 Januari 2026 | 61

Matahari mulai turun ke arah barat. Tepat  pukul 16.00, terdengar suara deru mesin kapal para nelayan bersahut-sahutan. Terlihat salah satu nelayan duduk di bibir perahunya sambil menunggu rekan-rekannya bergabung menuju laut lepas.

Lautan mungkin terlihat tenang dari kejauhan. Namun bagi seorang nelayan, lautan bagai medan tempur sekaligus sumber kehidupan. Menjadi seorang nelayan di negeri kepulauan bukan hanya dituntut ahli membaca arah mata angin, tapi juga keberanian mempertaruhkan nyawa demi bertahan hidup.



Tidak banyak yang memahami, nelayan tradisional harus berhadapan dengan ganasnya ombak laut di samudera lepas dan mempertaruhkan nyawa demi memastikan kepulan asap dapur tetap terjaga.

Tantangan seperti inilah yang dialami Taufik. Pria kelahiran Buton, Sulawesi Tenggara ini mengadu nasib menjadi seorang nelayan pesisir di sudut kota Jakarta, tepatnya di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara.

Nelayan kelahiran 1981 tersebut, setiap hari berangkat melaut bermodalkan tenaga, solar 15 liter dan logistik untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Ia berangkat sejauh enam kilometer dari daratan menuju samudera bersama rekan-rekannya.

Di tengah hantaman ombak dan cuaca tak menentu, Taufik menebar jaring sepanjang satu kilometer dengan harapan bisa membawa ikan yang banyak dengan sistem tebar jaring dua kali setiap pukul 18.00 dan 01.00 dini hari.

Taufik terus berjuang penuh harap tanpa jaminan selalu mendapat ikan dan melawan hawa dingin beserta deburan ombak yang menghantam kapal. Bagi seorang nelayan, laut tidak hanya tempat mengais rezeki, tapi secercah harapan untuk keberlanjutan hidup tanpa jaminan keselamatan dan bisa kembali pulang ke daratan.



Di tengah arus modernisasi, nelayan tradisional patut mendapat predikat pahlawan laut tanpa tanda jasa. Setiap ikan yang mereka bawa pulang merupakan buah dari kesabaran berjam-jam di bawah dinginnya malam. Peran vital mereka tidak hanya sebagai penyedia pangan (protein dan gizi), tapi juga penjaga ketahanan laut,  bahkan penyelamat saat kondisi darurat.

Nelayan tradisional membutuhkan dukungan dan apresiasi yang nyata. Hal ini pun telah tertuang dalam dua peringatan penting, Hari Dharma Samudera yang diperingati setiap 15 Januari dan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Nelayan dan Masyarakat Sipil pada 13 Januari. Dua hari besar itu bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum refleksi atas keberanian dan hak-hak nelayan. Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat akan perjuangan panjang para penjaga laut seperti peristiwa heroik Pertempuran Laut Aru, saat Komodor Yos Sudarso gugur berjuang di lautan demi mempertahankan kedaulatan bangsa.

Sebagai salah satu penjaga ketahanan pangan lokal, nelayan tradisional Indonesia terus memperjuangkan keadilan di laut mulai dari hak atas ruang tangkap, perlindungan dari dampak iklim, hingga kesejahteraan ekonomi seperti akses bahan bakar yang terjangkau.


Nelayan tradisional tidak membutuhkan belas kasihan. Yang mereka butuhkan pengakuan bahwa profesi mereka adalah pilar kedaulatan bangsa yang bermartabat.Perjuangan para nelayan mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang serba otomatis, masih ada manusia-manusia tangguh yang mengandalkan intuisi, otot dan doa untuk menyambung hidup memenuhi kebutuhan gizi rakyat Indonesia.