Menapak Langkah Merengkuh Bahagia

Oleh :

Aldi Geri Lumban Tobing

Minggu, 27 September 2026 | 31

Bias sinar mentari masih memancar terang di ufuk senja langit Jakarta. Namun, panasnya tak segarang siang. Senin sore itu, di kawasan Gelora Olahraga Bung Karno (GBK), Senayan, sekelompok orang tampak bergerak, menapak langkah dengan sederhana di tengah riuh orang yang berlari mengejar jarak dan kecepatan.

Langkah mereka tidak seragam, begitu pula usia dan kemampuan fisiknya. Namun, sore itu mereka memiliki tujuan yang sama, bergerak.

Kelompok tersebut merupakan bagian dari Komunitas Teman Jalan Panjang (TJP). Komunitas yang terbentuk pada 14 Juli 2025 ini, menjadikan jalan kaki sebagai pintu masuk untuk membangun kebiasaan hidup aktif. 

Tidak ada tuntutan berjalan cepat atau mengejar catatan waktu. Bagi komunitas yang digagas musisi Igor ‘Saykoji’ ini, keberanian untuk memulai justru menjadi hal yang lebih penting. Sesuai dengan slogan komunitas ini ‘Gak perlu cepat, yang penting start’.

Di kawasan GBK sore itu, langkah-langkah mereka mungkin hanya terlihat seperti aktivitas jalan biasa, tak ada yang istimewa. 

Tetapi bagi yang baru bergabung di komunitas TJP, setiap langkah bisa menjadi awal dari perjalanan lebih panjang.

Bermula dari Langkah Sederhana 

Ketua Umum Teman Jalan Panjang, Abdul Mufthy (45) menjelaskan, komunitasnya ini diawali dari sebuah langkah sederhana. 

Kala itu, papar Mufthy, Igor ‘Saykoji’ berjalan bersama anaknya berkeliling kawasan GBK. Dari aktivitas tersebut, muncul gagasan untuk membuat sebuah gerakan yang mengajak lebih banyak orang berjalan bersama. 

"Ajakan berjalan disampaikan Igor melalui akun Instagramnya. Pekan pertama, hanya 25 orang yang ikut, termasuk saya,"kata Mufthy.

Jumlah peserta bertambah dengan cepat. Pada pekan kedua, sekitar 100 orang sudah ikut berjalan. Seiring waktu, TJP berkembang menjadi wadah yang lebih terorganisasi. 

Kepengurusan kemudian dibentuk dan Mufthy dipercaya menjadi kapten sekaligus Ketua Umum. Meski demikian, komunitas ini tidak menerapkan pola keanggotaan yang mengikat.

“Kita sistemnya ini come and go, jadi kita enggak mencatat berapa members kita atau apa. Kita hanya wadah untuk memfasilitasi teman-teman yang mau jalan bareng,” ungkapnya.

Saat ini, lebih dari 500 orang telah tercatat dalam komunitas tersebut. Mereka datang dengan latar belakang dan kemampuan fisik yang beragam. 

Mayoritas berada pada rentang usia 30 hingga 40 tahun, tetapi ada pula peserta yang usianya sudah kepala tujuh.  

"Pernah ada peserta berusia 78 tahun yang mampu mengikuti rute sejauh lima kilometer," tutur Mufthy.

Bangun Semangat Memulai

Bagi Komunitas TJP, berjalan bukan sekadar aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada perbedaan antara berjalan sebagai aktivitas sehari-hari dan berjalan sebagai olahraga. 

Jika dilakukan tanpa henti dengan jarak tertentu, berjalan dapat menjadi bentuk latihan fisik. Namun, lebih dari itu, komunitas ini ingin membangun kembali kebiasaan dasar untuk bergerak.

“Basic orang itu sebelum lari tuh pasti jalan. Setelah lari, kalau capek pasti jalan,” ucapnya.

Semangat memulai itu kemudian diterjemahkan dalam kegiatan rutin tiga kali sepekan. Senin menjadi hari yang memiliki makna tersendiri bagi TJP. 

Kenapa? Karena, selain menjadi hari awal terbentuknya komunitas, Senin dipandang sebagai momentum untuk memulai kembali setelah aktivitas akhir pekan. 

"Pada hari Senin, dalam satu sesi, peserta berjalan sekitar lima kilometer di kawasan GBK. Jumlahnya dapat mencapai sekitar 80 orang," jelas Mufthy.

Bagi peserta yang ingin menambah jarak, TJP menyediakan sesi berbeda pada Kamis yang disebut Next Level. Jaraknya sekitar 10 kilometer dengan rute dari kawasan GBK menuju Bundaran Hotel Indonesia dan kembali lagi.

“Karena menggunakan jalur publik di luar GBK, jumlah peserta dibatasi maksimal sekitar 40 orang. Pemilihan rute pun tidak dilakukan sembarangan. Kita pilihnya jalur-jalur yang aman buat pejalan. Kayak trotoarnya lebar. Karena kenyamanan dan keamanan member itu yang utama bagi kita,” bebernya. 

Sementara itu, Sabtu pagi menjadi salah satu waktu dengan jumlah peserta terbanyak. Kegiatan dimulai sekitar pukul 06.30 dengan jarak sekitar tujuh kilometer. 

Rutenya memadukan kawasan di dalam dan luar GBK, termasuk melewati Hutan Kota. Suasana pagi membuat kegiatan terasa berbeda dibandingkan sesi sore. 

"Bagi sebagian peserta, akhir pekan menjadi kesempatan untuk berjalan tanpa harus terburu-buru mengejar aktivitas pekerjaan," imbuh Mufthy.

Jalin Pertemanan

Namun, langkah yang dibangun TJP tidak berhenti pada jarak dan rute. Di antara langkah kaki yang berulang, terbentuk pula pertemanan. 

Ada peserta yang datang untuk berolahraga, tetapi kemudian mendapatkan teman baru. Ada pula yang datang dari luar Jakarta ketika sedang berada di ibu kota.

“Ada peserta yang dari Karawang pernah datang, sementara orang dari Bali, Palu, hingga Balikpapan juga bergabung ketika berada di Jakarta. Niat mereka itu selain jalan, juga silaturahminya, teman barunya atau link baru,” ujarnya.

Nama Igor Saykoji tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan awal komunitas tersebut. Sosoknya menjadi pemantik yang membuat banyak orang mengenal TJP. 

Perjalanan pribadi Igor dalam mengubah gaya hidup dan kemudian menekuni lari juga menjadi inspirasi bagi sebagian peserta. Namun, setelah gerakan terbentuk, TJP berusaha agar komunitas tidak bergantung pada satu figur.

“Namanya juga Teman Jalan Panjang kan, teman. Jadi ini semuanya kita berteman, semuanya tuh yang bergerak, enggak hanya satu orang aja,” tukas Mufthy.

Setelah berjalan lebih dari setahun, TJP mulai mencoba membawa gerakannya keluar dari GBK. Salah satunya melalui kegiatan Teman Jalan Goes to Ragunan. 

Komunitas juga membuka kemungkinan menggelar kegiatan di tempat lain seperti Taman Mini Indonesia Indah dan Ancol. 

Di luar Jakarta, mereka berkomunikasi dan berkolaborasi dengan komunitas jalan seperti Kaki Besi Club di Bandung, Jogja Walkers dan Sumedang Walkers. 

Bagi Mufthy, gerakan tersebut tidak harus selalu berlangsung di satu tempat. Bahkan, jika seseorang pulang ke daerah asalnya lalu membuat kelompok jalan sendiri, semangat itu dianggap sebagai bagian dari gerakan yang sama.

Bangun Kebiasaan Hidup Aktif dan Sehat 

Ke depan, TJP juga ingin memperluas kegiatan agar anggota tidak hanya berjalan, tetapi memahami aspek lain dalam membangun kebiasaan hidup aktif dan sehat. 

Gagasan seperti workshop, menghadirkan dokter atau anggota yang memiliki latar belakang tertentu sebagai pembicara, hingga latihan kekuatan (strength training) mulai dipertimbangkan. 

Pada akhirnya, Teman Jalan Panjang bukan tentang siapa yang paling cepat tiba di garis akhir. 

Komunitas ini justru tumbuh dari kesadaran bahwa bagi sebagian orang, mengambil langkah pertama adalah tantangan tersendiri untuk merengkuh bahagia. Siapa berani? Yuuk, ikutan..