Oleh :
Budhi Firmansyah Surapati
Minggu, 28 Juni 2026 | 185
Fragmen hidup bergetar tanpa nada dalam ruang persemayaman masa lalu yang bercumbu di masa kini. Sekelompok anak muda tampak riang meloncat, berlari dalam lingkar permainan. Mereka seakan mabuk dalam sebuah mimpi indah masa kecil yang penuh kasih sayang dan lautan kelembutan.
Ya, situasi inilah yang bisa tergambarkan ketika menyaksikan aktivitas anak muda memainkan permainan tradisional yang kini sudah sulit ditemui.
Mereka bermain Lompat Karet, Kelereng, Congklak, Bola Bekel Ayam-Ayaman, Petak Gunung, Petak Jongkok, Ular Naga, dan beberapa permainan masa kecil lainnya.
Gelaran yang rutin diadakan 'Komunitas Bermain' saban Jumat malam di Kawasan Parkir Timur Gelora Bung Karno ini, hampir selalu ramai diikuti masyarakat dari berbagai kalangan.
Sekretaris Komunitas Bermain, Maureen mengatakan, bagi yang berminat dapat bergabung tanpa dipungut biaya alias gratis.Cukup bermodal niat dan hadir menikmati beragam permainan yang difasilitasi para volunteer.
"Kalau belum terdaftar sebagai anggota, bisa tetap datang ke lokasi permainan dan menyapa serta meminta izin pada fasilitator untuk bergabung berpartisipasi dalam kegiatan," ujarnya.
Kerinduan Masa Kecil
Diakui Maureen, eksistensi komunitas mereka berangkat dari kerinduan terhadap permainan yang biasa dimainkan saat masa kecil.
Founder komunitas Kiko bersama Co Founder Iqbal dan Moyi, pada 2024 silam memulai dengan bermain Lompat Karet di area Parkir Timur Gelora Bung Karno.
Saat beraktivitas, ternyata banyak dari masyarakat yang tertarik untuk ikut berpartisipasi.
Kelanjutannya, partisipasi masyarakat yang terus berkembang membuat mereka harus membentuk 'Komunitas Bermain' sebagai wadah pada 4 Agustus 2024 dan mengakomodir berbagai jenis permainan tradisional sebagai aktivitas bersama.
Tingginya animo, lanjut Maureen, membuat mereka harus membuka diri terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah Jabodetabek. Sekarang, Komunitas Bermain telah hadir di sejumlah kota seperti Jogja, Bandung, Palembang, Padang, Surabaya, Makasar, Malang dan Denpasar.
Tercatat, lebih dari 20 ribu orang terdaftar menjadi bagian dari Komunitas Bermain di seluruh kota tersebut.
"Untuk mengurus organisasi, Komunitas Bermain juga telah membentuk pengurus inti sebanyak sembilan orang," bebernya.
Selain pengurus inti, Komunitas Bermain juga memiliki kepengurusan sesuai dengan bidang dan di masing-masing kota. Para pengurus inilah yang akan memfasilitasi anggota dan masyarakat umum untuk menyelenggarakan permainan.
Untuk tingkat pusat, Maureen menjelaskan, aktivitas bermain telah rutin dilaksanakan setiap Jumat malam mulai pukul 19.00 hingga sekitar pukul 20.30 malam. Namun biasanya peserta sudah mulai datang dari sekitar pukul 18.30 di lokasi.
"Lokasinya tergantung jumlah peserta, kalau lagi banyak di Plaza Barat. Kita sengaja batasi pukul 20.30 agar peserta pulang tidak terlalu larut malam," ujarnya.
Menurut Maureen, setiap kali beraktivitas jumlah peserta yang biasa hadir berkisar antara 200 hingga 500 orang. Bila sedang banyak, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 1.000.
Agar bisa memfasilitasi permainan dengan baik dan aman, jelas Maureen, pihaknya akan membentuk tim volunteer. Para volunteer itu akan dibagi menjadi tiga unit bidang, yakni fasilitator permainan, medis dan penjaga tas.
Volunteer ditawarkan kepada para anggota yang bersedia dengan konsekuensi tidak terlibat dalam aktivitas bermain. Mereka akan fokus menjalani tugas yang telah disepakati bersama dalam komunitas.
Misalnya, volunteer yang bertugas menjaga tas akan memfoto peserta dan barang bawaannya saat menitipkan kepada mereka sebelum aktivitas bermain dimulai.
Demikian juga dengan volunteer permainan yang bertugas memfasilitasi pelaksanaan permainan agar berlangsung dengan baik. Tugas mereka termasuk membagi kelompok dan menjaga alur permainan sesuai aturan berlaku hingga selesai kegiatan.
Meski telah membagi anggota dalam kelompok permainan, Maureen menjelaskan peserta nantinya bisa memilih jenis permainan yang akan diikuti. Lalu, mereka juga bisa berganti jenis permainan bila telah mengikuti dan permainan itu rampung.
Mengenai kegiatan di lokasi lain yang dilaksanakan pengurus wilayah, waktu dan lokasi akan menyesuaikan. Seperti kegiatan di Car Free Day (CFD) Thamrin, waktunya digelar menyesuaikan dengan kesiapan fasilitator serta anggota.
Pengurus pusat pun membebaskan beragam permainan tradisional yang dilaksanakan menyesuaikan dengan wilayah masing-masing.
"Seluruh kegiatan yang digelar Komunitas Bermain akan melakukan permainan Ular Naga sebagai ritual penutup kegiatan,' jelas Maureen.
Menjaga Warisan Tradisi Menuju Kota Global
Bukan sekedar berkumpul untuk bersenang-senang, Maureen mengatakan, Komunitas Bermain juga telah melaksanakan kegiatan sosial melakukan edukasi ke sekolah dan panti sosial.
Terakhir, pada akhir 2025 lalu, mereka mengunjungi sekolah di Jakarta Barat untuk mengenalkan berbagai permainan tradisional.
"Bulan Oktober 2025 kita juga sempat menyambangi salah satu panti sosial di Jakarta. Jadi teman-teman yang available waktunya hadir ke sana mengedukasi," imbuhnya.
Ditegaskan Maureen, kegiatan edukasi ke sekolah dan panti sosial ini sebagai upaya melestarikan berbagai permainan tradisional agar tidak punah tergerus perkembangan zaman. Sebab, menurutnya perkembangan zaman digital saat ini membuat banyak anak lebih gandrung pada permainan gadget dan melupakan permainan tradisional.
Permainan tradisional, menurut Maureen, bukan hanya pengisi waktu luang yang sehat dan membahagiakan. Aktivitas yang dilakukan bersama-sama ini juga akan mengasah keterampilan sosial dan empati melalui interaksi sosial.
Di kehidupan sehari-hari, keterampilan sosial, emosi dan empati ini merupakan soft skill agar seseorang mampu beradaptasi serta menempatkan diri dengan tepat di tengah masyarakat. Sehingga hasilnya mereka akan mampu membangun harmoni sosial melalui relasi yang baik.
Sebab itu, Ia berharap dukungan semua pihak, termasuk pemerintah daerah agar bisa menjaga keberlangsungan beragam permainan tradisional.
Visi Jakarta menuju top kota global dunia yang dicanangkan GUbernur Pramono dan Wakil Gubernur Rano Karno, menurut Maureen, sejalan dengan semangat Komunitas Bermain untuk menjaga kelangsungan permainan tradisional sebagai warisan budaya.
"Kehadiran permainan tradisional akan memperkuat akar budaya dan branding kota global," tukasnya.
Secara nyata, Komunitas Bermain telah berinteraksi dengan komunitas ekspratiat Perancis di Jakarta. Mereka menggelar aktivitas bersama melakukan eksplorasi permainan tradisional dari kedua negara.
Melalui pertukaran informasi dan kolanorasi kegiatan itu, mereka saling mengenalkan berbagai permainan tradisional dari masing-maisng negara.
Diyakini Maureen, kegiatan Komunitas Bermain akan memperkuat branding Jakarta sebagai kota global yang berbudaya.
"Permainan tradisional ini merupakan warisan budaya. Eksistensinya malah akan memperkuat citra Jakarta sebagai kota global untuk dikenal kepada dunia," tandasnya.