Roti Buaya Tanda Setia

Oleh :

Nurito

Jumat, 17 Oktober 2025 | 1262

Bagi masyarakat Betawi, Buaya dipercaya hanya kawin sekali seumur hidupnya. Dari sanalah lahir filosofi bahwa Roti Buaya menjadi lambang cinta yang teguh, kesabaran, kemapanan, dan kelanggengan rumah tangga.


Dari Ruko Sederhana di Pondok Ranggon


Di sebuah rumah toko (Ruko) berukuran sekitar 8x10 meter di Jalan Kramat Ganceng, RT 05/01, Kelurahan Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, aroma roti baru matang setiap hari menyeruak dari dapur milik Jimboy Bakery. 


Dari Ruko kecil di sudut Pondok Ranggon, aroma roti itu seakan membawa pesan sederhana namun dalam, bahwa kesetiaan, seperti Roti Buaya memang tak lekang dimakan zaman.


Usaha rumahan milik pasangan suami istri, Endang Dani Ginanjar (53) dan Hayati Suminar (50) atau akrab disapa Mir menjadi salah satu produsen Roti Buaya legendaris di Jakarta Timur.


Dua Ondel-ondel berwarna hijau muda dan kuning keemasan berdiri gagah di depan rukonya, menjadi penanda khas sekaligus magnet bagi pengunjung yang penasaran. Di dalam, deretan etalase berisi roti aneka rasa, rak pendingin, dan oven otomatis menjadi saksi kesibukan enam karyawan yang bahu membahu membuat berbagai pesanan pelanggan.


"Awalnya tahun 2009, saya cuma pakai meja kecil di depan rumah, jualan roti manis. Tepungnya pun cuma satu kilo sehari," kenang Mira.


Namun, takdir berkata lain. Setahun kemudian, saat musim pernikahan usai Idul Adha di tahun 2010, banyak warga mulai memesan Roti Buaya kepadanya. Tantangan itu ia sambut dengan semangat. 


"Saya semakin merasa tertantang untuk melestarikan budaya Betawi lewat roti ini," ujarnya.