Jokowi Mengaku Pecinta Heritage

Reporter : Erna Martiyanti | Editor : Agustian Anas | Senin, 03 Maret 2014 20:25 WIB | Dibaca 2166 kali
(Foto : / Beritajakarta.id)
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku sangat konsen dalam revitalsiasi Kota Tua, Jakarta Barat. Apalagi, orang nomor satu di Jakarta ini mengaku sebagai pecinta heritage (cagar budaya). Bahkan ketika menjabat sebagai Walikota Solo, dirinya mampu membuat Solo sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang masuk dalam Organisation World Heritage City.

"Kawasan Kota Tua ini terbesar di Asia, kenapa tidak kita jadikan seperti Solo," ujar Jokowi, di Balaikota, Senin (3/3).

Jokowi mengatakan, pihanya telah menandatangani rencana induk Kota Tua. Sehingga nantinya tidak hanya Kota Tua yang dikembangkan, tetapi juga terkait dengan jejak pahlawan (patriot trail) yang ada di Jakarta. "Tadi menyambungkan antara induk Kota Tua, baru saja ditandatangani biar sambung dengan rencana dari konsorsium dan Yayasan Pusaka Nusantara Raya," katanya.

Untuk cagar budaya (heritage trail) mencakup kawasan Kota Tua-Sunda Kelapa-Ancol. Sementara untuk patriot trail mencakup kawasan Monas dan Tugu Proklamasi. "Jadi nantinya kawasan heritage trail dengan patriot trail bisa tersambungkan. Di semua negara juga ada, agar kita tidak lupa dengan sejarah. Ini yang kita sering mengabaikan, jati diri kita hilang," ucapnya.

Diakui Jokowi, nantinya tidak hanya sejarah dan kepahlawanan saja yang dikembangkan. Tetapi juga terkait dengan penyebaran agama di Jakarta. "Wajah sejarah kita buka. Kalau tidak nantinya anak cucu kita tidak mengerti. Ini sejak besar bangsa, sejarah Jakarta akan kita ingatkan lagi," ungkapnya.

Anggarannya sendiri tidak sepenuhnya menggunakan dana APBD. Menginggat telah dientuk konsorsium dalam pembangunannya. Agar pembiayaan ringgan, revitalisasi akan dilakukan secara bertahap. "Misalnya butuh biaya Rp 20 triliun dibagi menjadi enam tahun, jadi setiap tahunnya hanya butuh dana lebih dari Rp 3 triliun," tandasnya.

Menurut Jokowi, revitalisasi Kota Tua ini agar kebudayaan Jakarta tidak terkikis oleh budaya asing. Terlebih saat ini telah menjamur pusat perbelanjaan. "Sehingga ada kesemimbangan antara budaya asing dan budaya kita. Nanti kita tahu sebetulnya milik kita yang betul itu adalah pasar tradisional dan bukan mal," tandasnya.

""